Seni Kok Dikorupsi? Drama Kasus Amsal Sitepu yang Berakhir Copot Jabatan Petinggi Kejaksaan
Dari Dakwaan Korupsi Sampai Copot Jabatan: Pelajaran Mahal dari Kasus Videografer Amsal Sitepu
Dunia industri kreatif Sumatra Utara sempat dibuat ketar-ketir belakangan ini. Gimana enggak? Seorang pelaku kreatif sekaligus videografer asal Medan, Amsal Christy Sitepu, mendadak harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan tuduhan korupsi dana desa.
Bagi anak-anak agensi, filmmaker, atau content creator lokal, kasus ini jelas bikin merinding. Masa iya kerjaan bikin video bisa berujung bui?
Untungnya, keadilan berpihak pada akal sehat. Pada 1 April 2026 kemarin, majelis hakim resmi menjatuhkan vonis bebas untuk Amsal. Tapi, di balik tangis haru kebebasannya, ada drama besar yang menyeret petinggi kejaksaan hingga anggota DPR RI.
Yuk, kita bedah duduk perkaranya biar anak-anak kreatif di Medan gak salah langkah!
Kronologi Singkat: Gara-gara Video Profil Desa
Semua bermula saat Amsal melalui vendornya, CV Promiseland, mendapat proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo untuk periode 2020 hingga 2022. Biaya yang disepakati sekitar Rp30 juta per desa.
Masalah muncul ketika proyek ini terseret dalam pusaran pengusutan korupsi dana desa Karo yang totalnya mencapai Rp1,8 miliar. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Karo menilai ada mark-up alias penggelembungan anggaran pada proyek video Amsal sebesar Rp202 juta.
Tuntutan jaksa gak main-main:
- Hukuman 2 tahun penjara
- Denda Rp50 juta
- Uang pengganti kerugian negara sebesar Rp202 juta
Di Mana Letak Perdebatannya?
Jaksa menilai beberapa komponen di Rencana Anggaran Biaya (RAB) seperti konsep ide, editing, cutting, dubbing, hingga sewa mikrofon dinilai tidak sesuai kenyataan lapangan atau bahkan dianggap "bernilai nol" oleh auditor. Jaksa juga mempermasalahkan durasi pengerjaan yang harusnya 30 hari tapi selesai lebih cepat.
Di sinilah komunitas kreatif meradang. Dunia infografis dan audiovisual itu punya nilai seni dan keahlian profesional yang gak bisa dihitung pakai rumus kaku ala proyek fisik (kayak bangun jembatan atau ngaspal jalan). Masa iya ide kreatif dan proses editing dinilai "nol rupiah"?
"Pekerjaan videografi adalah bagian dari industri kreatif yang tidak memiliki standar harga baku. Semuanya bergantung pada konsep, kualitas produksi, dan skill profesional si kreator."
Akhir Drama: Divonis Bebas dan Kejari Karo Kena Imbas
Majelis hakim PN Medan yang diketuai Yusafrihardi Girsang melihat dengan jernih bahwa dakwaan jaksa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Amsal dinyatakan bebas murni dan hak-hak serta martabatnya harus dipulihkan.
Tapi, dramanya gak berhenti di situ. Kasus ini sempat memicu kemarahan Komisi III DPR RI (termasuk Hinca Panjaitan) karena adanya dugaan penjagalan hak penangguhan penahanan Amsal dan salah ketik administrasi dari pihak kejaksaan.
Imbasnya dahsyat:
- Pemeriksaan Internal: Kajari Karo dan Kasi Pidsus sempat diperiksa intensif oleh Kejagung.
- Pencopotan Jabatan: Tak lama setelah vonis bebas, Jaksa Agung langsung mencopot Kajari Karo, Danke Rajagukguk, dan menggantinya dengan Edmond Purba demi memulihkan integritas penegakan hukum.
Pelajaran Penting Buat Anak Kreatif Medan
Kasus Amsal Sitepu ini jadi wake-up call yang mahal banget buat kita semua yang sering main di proyek pemerintahan atau dana desa. Biar gak apes, ini poin penting yang wajib dicatat:
- RAB Harus Detail & Transparan: Kalau dapet proyek pemerintah, susun RAB sedetail mungkin. Masukkan biaya man-days (hari kerja) untuk keahlian profesional secara jelas agar tidak dianggap fiktif oleh auditor yang awam dunia kreatif.
- Tertib Administrasi: Pastikan semua dokumentasi kerja (pembelian aset, sewa alat, timeline produksi, hingga berita acara serah terima) tercatat rapi dan ada bukti fisiknya.
- Pahami Kontrak Hukum: Jangan asal tanda tangan kontrak hanya karena nilainya menggiurkan. Pahami risiko hukum dan pastikan ada klausul yang melindungi hak profesional kita sebagai pekerja seni.
Kasus ini membuktikan kalau hukum kita mulai belajar menghargai esensi industri kreatif substantif, bukan cuma melihat hitam di atas putih secara kaku.
Tetap semangat berkarya, anak-anak Medan! Jaga kreativitas, tapi jangan lupa amankan administrasi kerjaan kalian, ya!
Salam, Medantainment